Prinsip-prinsip Akuntansi

Prinsip akuntansi adalah aturan keputusan umum, yang diturnkan baik dari tujuan dan konsep teoritis akuntansi, yang mengatur pengembangan teknik-teknik akuntansi.  Untuk lebih memahami dan membandingkan apa sebenarnya yang dapat dimasukkan sebagai prinsip akuntansi, berikut ini dikemukakan aeperangkat konsep-konsep dasar menurut beberapa sumber :

1.      Prinsip Akuntansi menurut Prinsip Akuntansi 1984.
a.       Kesatuan Akuntansi
b.      Kesinambungan
c.       Periode Akuntansi
d.      Pengukuran Dalam Nilai Uang
e.       Harga Pertukaran
2.        Prinsip Akuntansi menurut APB  Statement No.4
 a.       Kesatuan usaha sebagai focus akuntansi (accounting entity)
b.      Kontinuitas Usaha (Going Concern)
c.       Pengukuran aktiva dan Passiva unit Usaha (measurement of economic resources and obligations)
d.      Laporan berdasarkan periode waktu (Time Periode)
e.       Pengukuran dalam satuan moneter (measurement in term of money)
f.       Asas himpun/akrual (accrual)
g.      Harga Pertukaran (jual beli) (exchange price)
h.      Angka/jumlah rupiah pendekatan (Approximation)
i.        Kebijaksanaan (judgement)
j.        Informasi Keuangan Umum (General Purpose Finansial Information)
k.      Laporan Keuangan Saling Berkaitan (Fundamentally Related Financial Statements)
l.        Mementingkan Substansi Daripada Bentuk luar/Yuridis (Substance Over Form)
m.    Materialitas (Materiality)
v  Konsep Dasar Menurut Paul Grady
a.       Pengakuan hak milik pribadi (ASociety and Government structure honoting private property right)
b.       Kesatuan Usaha yang berdiri sendiri (spesifik businee entities)
c.        Kontinuitas Usaha (Going Concern)
d.       Satuan Uang
3.      Prinsip Kos
APB Statement No.4 mendefinisikan Kos adalah jumlah, diukur dalam uang, kas uang dibelanjakan atau property lain yang ditransfer, penerbitan modal saham, jasa yang diberikan atau uang yang terjadi, sebagai imbalan atas barang atau jasa yang diterima, atau seharusnya diterima.
Kos dapat diklasifikasikan sebagai belum terpakai (unexpired) adalah asset yang dapat digunakan untuk menghasilkan revenue di masa mendatang dan telah terpakai (experid) adalah pengurang revebue atau dibenbankan sebagai pengurang laba ditahan.
Prinsip kos dijustifikasi oleh postulat kelangsungan usaha yang mengasumsikan bahwa entitas akan meneruskan aktivitasnya secara tidak terbatas, sehingga mengelimiasi perlunya menggunakan nilai sekarang atau nilai likuiditas untuk penilaian asset.
Prinsip kos lemah pada validitas postulat unit pengukur, yang mengasumsikan bahwa daya beli dolar adalah stabil, merupakan keterbatasan utama untuk menerapkan prinsip kos, pada kenyataannya adanya inflasi.
4.      Prinsip Revenue
Prinsip Revenue Menspesifikasi :
a.       Sifat Komponen-komponen revenue
b.      Pengukuran Revenue
c.       Waktu Pengukuran Revenue
I.          Sifat dan Komponen-Komponen Revenue
a)      Revenue diintrepretasikan sebagai :
Aliran masuk asset bersih yang berasal dari penjualan barang atau jasa. Aliran keluar barang atau jasa dari perusahaan kepada pelanggan Produk perusahaan yang dihasilkan dan penciptaan barang atau jasa oleh perusahaan selama periode waktu tertentu. Terdapat dua pandangan tentang komponen revenue:
a.       Pandangan revenue yang komprehensif adalah semua perubahan dalam asset bersih yang berasal dari aktivitas penghasil revenue dan keuntungan atau kerugian yang berasal dari penjualan asset tetap dan investasi.
b.      Pandangan yang lebih sempit tentang revenue hanya memasukkan hasil yang berasal dari aktivitas penghasil revenue dan tidak memasukkan Penghasilan investasi dan keuntungan dan kerugian dari pelepasan asset tetap.
II.       Pengukuran Revenue
Revenue diukur dalam pengertian nilai pertukaran produk atau jasa dalam sebuah transaksi yang lugas.  Terdapat dua interpretasi revenue yang muncul dari konsep revenue ini :
v  Potongan tunai dan berbagai pengurangan adalam harga tetap, seperti kerugian piutang yang tidak tertagih memerlukan penyesuaian untuk menghitung ekuivalen kas bersih yang sesungguhnya atau nilai diskonto sekarang atau klaim uang dan secara konsekuen harus dikurangkan ketika harus menghitung revenue.
v  Untuk transaksi nonkas, niali pertukaran sama dengan nilai pasar yang wajar barang/jasa yang diberikan atau yang diterima, mana yang lebih mudah dan jelas dalam menghitungnya.
III.    Waktu Pengakuan Revenue
Umumnya diakui bahwa revenue dan income yang diperoleh dalam semua tahap siklus operasi (yaitu, selama penerimaan order, produksi, penjualan dan penagihan).
v  Akuntan menggunakan prinsip realisasi untuk memilih sebuah peristiwa kritis dalam siklus untuk waktu pengakuan revenue dan income.
v  Realisasi dalam perubahan dalam asset atau uatang secara memadai telah menjadi tertentu dan bertujuan untuk membenarkan pengakuan dalam akun.
5.      Prinsip Penandingan
Prinsip penandingan mengatakan bahwa expense (beban) harus diakui pada periode yang sama dengan revenue, yaitu revenue diakui dalam periode tertentu sesuai dengan prinsip revenue, dan beban yang terkait kemudian diakui.
Hubungan antara revenue dan expense tergantung pada satu dari empat criteria:
a.    Penandingan langsung kos yang telah terpakai dengan peridenya (sebagai contoh, gaji direktur untuk periode tertentu).
b.   Alokasi kos selama periode yang mendapatkan manfaat (sebagai contoh, depresiasi).
c.    Menjadikan expense semua kos lain dalam periode terjadinya, kecuali jika dapat ditunjukkan bahwa masih memiliki manfaat di masa mendatang.
Kos yang belum terserap (yaitu, asset) yang tidak memenuhi salah satu dari empat criteria untuk menjadikannya expense pada periode berjalan dapat dibebankan pada periode mendatang dan dapat diklasifikasikan dalam kategori yang berbeda sesuai penggunaan yang dalam penerapan prinsip penandingan.
6.      Prinsip Objektivitas
Kegunaan informasi keuangan tergantung pada tingkat realibilitas prosedur pengukuran yang digunakan.  Karena menjamin reliabilitas maksimum adalah salat sulit, akuntan, telah menggunakan prinsip objektivitas untuk menjustifikasi pemilihan prosedur pengukuran yang digunakan.  Prinsip objektivitas, bagaimanapun, yang menjadi subjek interpretasi yang berbeda :
a.       Pengukuran objektivitas merupakan ukuran yang tidak bersifat personel dalam pengertian bebas dan bias personel pengukurnya.
b.      Pengukuran objektivitas merupakan pengukuran variable dalam pengertian bahwa pengukuran didasarkan pada bukti.
c.       Pengukuran objektivitas merupakan hasil dari dari konsensus diantara kelompok pengamat atau pengukur tertentu.
d.      Ukuran penyebaran atau distribusi pengukuran digunakan sebagai indicator tingkat objectivitas suatu system pengukuran termaksud.
7.      Prinsip Konsistensi
Prinsip konsistensi menyatakan bahwa peristiwa ekonomi yang serupa seharusnya dicatat dan dilaporkan secara konsisten dari period ke periode.  Prinsip ini berimplikasi bahwa prosedur akuntansi yang semua akan diterapkan dalam item serupa sepanjang waktu.
Prinsip konsistensi tidak menghalangi perusahaan mengubah prosedur akuntansi ketika hal tersebut dapat dibenarkan dengan perubahan keadaan, atau jika prosedur alternative lebih baik.  Menurut APB opinion No. 20 perubahan yang dapat menjustifikasi perubahan prosedur adalah :
a.    Perubahan dalam prinsip akuntansi
b.    Perubahan dalam estimasi akuntansi
c.    Perubahan dalam entitas pelaporan
Perubahan ini harus terefleksi dalam akun dan dilaporakan dalam laporan keuangan secara retroaktif untuk perubahan dalam entitas akuntansi, secara prospektif untuk perubahan dalam estimasi akuntansi, dan secara umum dan segera untuk perubahan dalam prinsip akuntansi.
8.      Prinsip Pengungkapan Penuh
Terdapat consensus umum dalam terdapat pengungkapan data akuntansi yang penuh (full), wajar (fair), cukup (adequate).  Pengungkapan penuh mensyaratkan bahwa laporan keuangan didesaian dan dibuat untuk menggambarkan secara akurat peristiwa ekonomi yang telah mempengaruhi perusahaan untuk suatu periode dan memuat informasi yang memadai untuk membuat laporan keuangan dan tidak menyesatkan bagi rata-rata investor.  Beberapa hal yang menjadi perhatian pengungkapan penuh :
v  Rincian tentang kebijakan dan metode akuntansi, terutama bila diperlukan pertimbangan dalam penerapan metode akuntansi.
v  Informasi tambahan untuk membantu analisa investasi atau untuk mengindikasikan hak berbagai pihak yang memiliki klaim atas pelaporan entitas.
v  Perubahan dari tahun sebelumnya dalam kebijakan dan metode akuntansi  yang digunakan dan dampak perubahan tersebut.
v  Aset, Utang, Kos, dan Revenue yang timbul dari transaksi dengan pihak lain yang memiliki kepentingan pengendalian atau dengan direktur atau karyawan yang memiliki hubungan khusus dalam entitas pelaporan.
v  Aset, Utang, dan Komitmen Bersyarat
v  Transaksi keuangan atau transaksi operasi lainnya yang terjadi setelah tanggal neraca yang memiliki dampak material terhadap posisi keuangan entitas.
9.      Prinsip Konservatisme
Prinsip Konservatisme menyatakan bahwa ketika memilih diantara dua atau lebih teknik akuntansi yang dapat diterima, maka preferensinya adalah memilih yang paling kecil dampaknya terhadap ekuitas pemegang saham.
10.  Prinsip Materialitas
Prinsip materialitas menyatakan bahwa transaksi dan peristiwa yang tidak memiliki dampak ekonomi signifikan dapat diatasi dengan cara yang paling tepat, apakah transaksi dan peristiwa tersebut sesuai dengan prinsip berterima umum atau tidak, dan tidak perlu diungkapkan.
Suatu jumlah material tidak semata-mata, karena alasan besarnya jumlah, factor-factor lain meliputi serangkaian hal-hal berikut ini harus dipertimbangkan dalam membuat keputusan tentang materilitas. Antara lain :
Sifat Item, apakah item : 
v  Merupakan factor masukkan dalam penentuan net income
v  Tidak biasa atau luar biasa
v  Peristiwa atau kondisi bersyarat.
v  Dapat ditentukan berdasarkan fakta dan keadaan yang ada
v  Diminta oleh undang-undang atau regulasi.
Jumlah item itu sendiri, dalam hubungannya dengan :
v  Laporsn keuangan secara keseluruhan.
v  Total akun tempat item tersebut terbentuk, atau seharusnya terbentuk sebagai bagiuannya,
v  Item item terkait
v  Jumlah yang terkait dalam tahun sebelumnya atau jumlah yang diharapakan dalam tahun-tahun mendatang.
11.  Prinsip Keseragaman dan Komparabilitas
Prinsip keseragaman merujuk pada penggunaan prosedur yang sama oleh perusahaan yang berbeda.  Tujuan yang diinginkan adalah mencapai komparabilitas laporan keuangan dengan mengurangi keanekaragaman yang tercipta karena penggunaan prosedur akuntansi yang berbeda oleh perusahaan yang berbeda.
Pendukung utama prinsip keseragaman mengklaim bahwa prinsip tersebut akan :
a.         Mengurangi perbedaan penggunaan prosedur akuntansi dan ketidakcukupan praktik akuntansi
b.         Memungkinkan perbandingan yang berarti bagi pengguna laporan keuangan.
c.         Memperbaiki kepercayaan pengguna para laporan keuangan.
d.        Mendorong intervensi pemerintah dan regulasi praktik akuntansi
Pendukung utama fleksibilitas mengklaim bahwa :
a.         Penggunaan prosedur akuntansi yang seragam untuk menunjukkan item yang sama yang terjadi dalam berbagai kasus menimbulkan risiko penyembunyian perbedaan-perbedaan penting diantara kasus tersebut.
b.         Komparbilitas merupakan tujuan yang tidak praktis, hal tersebut tidak dapat dicapai dengan mengadopsi aturan-aturan perusahaan yang tidak menggunakan pencatatan yang memadai untuk situasi factual yang berbeda.
c.         Perbedaan dalam keadaan”atau “ variable-variabel keadaan meminta perlakuan yang berbeda, sehinggga pelaporan perusahaan dapat merespon keaadaan tempat transaksi dan peristiwa terjadi.
Sumber :  http://accounting8494.blogspot.com/2013/03/prinsip-prinsip-akuntansi.html
Bagikan :
+
Previous
Next Post »
0 Komentar untuk "Prinsip-prinsip Akuntansi"

 
Template By Kunci Dunia
Back To Top